<
Category: Matic Profile
Published on Saturday, 06 September 2008 18:07
Hits: 6418

Rasa ingin mencoba, kadang sulit dibendung. Seperti ketika MOTOR Plus melakukan investigasi tentang Pasopati Midnight Race (PMR) di Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Dari sekadar melihat, taunya ada kekuatan besar di dalam hati untuk mencoba langsung. Ya! Bagaimana rasanya berkendara dengan kecepatan tinggi, macam ‘terbang’ di atas jembatan sepanjang 2,3 km itu.
Beruntung, Em-Plusketemu Cecep dan Budhi dari Cep’s Motor Sport di Jl. Jamika, No. 134, Pagarsih, Bandung. Keduanya memang penikmat adu kebut, bersama skubek di atas jembatan yang seakan jadi ikon Kota Kembang itu.
“
Silakan pakai aja motor kita ini. Tinggal pilih mau yang Soul atau Sporty atawa keduanya juga boleh,†ujar Cecep sembari menunjuk dua motor itu. Menurutnya, kedua motor ini punya setingan berbeda. Tapi yang jelas, kemampuannya berlari jauh dari kecepatan standar.
Ditawari githu, Em-Plus pun ambil pilihan yang terakhir dong! Yup, mencoba keduanya. Toh, pasti ada salah satu skubek yang mampu membawa Em-Plus berlari lebih. Hayo, mana kiranya yang lebih kencang? Penasarankan? Sama dong!
Ini dia!
|
KOMPRESI 12,5 PSI
|
Banyak pertanyaan muncul, gimana caranya membuat mesin awet hingga mampu dipacu terus di rpm tinggi. Maklum, jarak main alias lintasan yang dipakai tergolong jauh! Yup, sentuh 2,3 km. Pastinya, mesin terasa ‘disiksa’ hingga beberapa menit. Buat di dua skubek ini, kompresi dipatok 12,5 psi. Lho kok, psi? Iya, soale ukurnya pakai compresion tester yang dipasang ke lubang busi lalu mesin di engkol. Makanya satuan yang dipakai psi, bukan rasio kompresi 12,5 : 1. Angka itu didapat dari bengkaknya isi silinder. Piston Honda Tiger, diambil yang oversize 200. Tepatnya, 65 mm. Lalu, pen stroke dipasangkan biar langkah piston rotasinya lebih jauh. Tepatnya pakai pen stroke merek LHK ukuran 3 mm. Setelah dihitung, menjadi 201 cc. “Kepala silinder juga ikut kena sentuhan. Keduanya memakai klep milik Honda Tiger, 31 mm buat klep isap dan 27 mm,†aku pria yang juga kerap mengikuti balap karapan resmi ini. Tuh kan! Begitunya tenaga yang ada diantara piston dan head silinder bisa tersalur sempurna. Belum lagi kinerja buka tutup klep yang dilengkapi per klep Honda Sonic ini, dibantu noken-as LHK. Tapi kem aftermarket ini nggak langsung dipasang githu aja. “Pantat kem dibubut lagi hingga tercipta ukuran 18 mm,†sebut Ceps lagi.
|
Â
|
SUPLAI BBM BERBEDA
|
|
Dua skubek garputala ini punya perbedaan soal pengabut bahan bakar. Buat di Soul, Ceps menerapkan Karburator merek Mikuni Sudco 32 mm. Biasa disebut karbu kotak. Sedang buat di Mio Sporty, Ceps memberikan part penyuplai Pertamax Plus merek Keihin PE 28 mm. Buat pasang karbu kotak nan gambot, butuh penyesuaian. Ceps kudu membuat adaptor lagi dari bahan dural. “Kalau gak dibuatkan adaptor lagi, mangkuk karburator bisa mentok dengan cover kipas pendingin,†bilangnya. Anehnya buat di karburator kotak ini, Ceps memasukkan kombinasi main-jet dan pilot-jet yang cukup signifikan. Yaitu, angka 195 buat main-jet dan 20 buat pilot-jet. Wah, kecil banget tuh pilot-jet-nya?
|
Â
|
ANTARA BRT DAN SHINDENGEN
|
Pertamax Plus, masuk deras ke ruang bakar! Bakal percuma jika tidak bisa dibakar habis. Maka itu, seting pengapian juga sangat diperlukan. Pertama, magnet standar dibubut hingga 2 mm dari ukuran standarnya. Langkah ini, ditujukan agar membuat putaran kruk-as menjadi lebih enteng berkitir. Lanjut lagi! Sebagai pemetik api terakhir sebelum busi, dipakai koil milik Special Engine alias SE. Yup, milik Suzuki RM 80. Namun, timing pengapian diatur kedua otak pengapian alias CDI yang berbeda. “Untuk Soul, dipakai CDI merek BRT i-Max. Sedang buat Sporty memakai merek Shindengen,†jujur Cecep. Oh ya, ada satu alasan mengapa Ceps memakai CDI BRT i-Max. “Itu karena CDI ini bisa mengakali kurang atau lebihnya timing. Kan, tinggal seting pakai remote,†tambahnya.
|
Â
|
MAIN MESIN ‘BAWAH’
|
|
Enggak afdal rasanya kalau mesin atas dimainkan, tapi mesin bawah gak! Mesin bawah? Iya, maksudnya daerah sekitar rumah CVT. Di bagian ini juga terdapat beberapa part pendukung mesin berlari. Sebut saja; per CVT, gigi rasio, rumah roller. Nah, hampir semua partyang disebut ini diganti. Misal, buat rumah roller memakai merek LHK. Begitunya, roller juga ikut diganti memakai ukuran yang lebih berat. Yaitu, 12,5 gram buat keenamnya. Rolleryang makin berat ini, masih dikombinasi lagi dengan ukuran rasio 16/39 mata merek LHK. “Dengan paduan roller dan rasio berat ini, tenaga nggak cepat habis. Maklum, kan buat kejar top-speed bukan akselerasi,†sebut Ceps. Betul tuh! Karena motor ini kudu mampu berlari minimal 2 km lebih sebelum tenaga sampai puncaknya.
|
Â
|
LEBIH DARI 140 KM/JAM
|
Jam digital di tangan menunjukan waktu 02:00 WIB. Wah, jam 2 pagi tuh! Kini, waktunya Em-Plus mencoba duo semplakan yang katanya bisa memuaskan hasrat kebut di atas skubek. Mengikuti sistem Pasopati Midnight Race (PMR), maka start sembari jalan pun dilakukan. Begitu jalan di depan benar kosong adanya, grip gas diputar mentok! Sontak, tenaga skubek yang standarnya cuma sekitar 8,8 dk/8.000 rpm ini terasa sangat menyentak. Mirip motor bertenaga lebih dari 20 dk aja.  Sungguh! Jarum kecepatan di panel spidometer bergerak begitu cepat. Bahkan, enggak sadar kecepatan 100 km/jam diraih begitu cepat. Terus... dan terus bergerak cepat hingga mata Em-Plus seakan tidak percaya jarum spidometer sudah mentok di angka 140 km/jam. Tapi Em-Plus yakin! Bahwa kecepatan itu masih terus bertambah. Lari skubek ini enggak cuma 140 km/jam yang menjadi angka terakhir di panel spidometer. Buktinya, lari motor terus bertambah seiring gas terus dibuka pol. Tapi rasanya, di antara kedua skubek garputala ini Soul yang memiliki kecepatan lebih ketimbang Sporty. Mungkin karena karbu yang lebih besar ketimbang Sporty dan seting pengapian yang lebih pas.
|
Â
|
JALUR NAN LEBAR
|
Awalnya Em-Plus sangsi alias kurang percaya, bahwa ‘berlari’ di atas jembatan Pasopati ini aman. Karena jalur yang dipakai memang searah dan punya lebar lintasan mumpuni. Tapi ada benarnya juga! Sebab saat melakukan pengetesan, jalur memang tidak ramai. Hanya ada satu atau dua kendaraan lalu-lalang. Itu juga salah satu alasan kenapa diambil hari kerja, bukan hari libur. Begitunya selama nyemplak motor, ada beberapa faktor yang kudu jadi perhatian. Pertama, penerangan. Sebab tidak semua lampu jembatan menyala. Meski tetap terlihat, tapi gak ada salahnya memakai penerangan lebih. Misal, lampu HID. Selain lampu, kondisi sambungan antara tiap jembatan sangat terasa sebagai handicap ketika dilintasi. Bagusnya, kondisi skubek didukung suspensi mumpuni. Begitunya handling tetap mantap. Terakhir, ini yang kudu dipertimbangkan. Semua penikmat kebut PMR musti berpikir safety. Itu karena, maaf, nyawa hanya dibatasi tembok pinggir jembatan setinggi kurang dari 1 meter. So, pemakaian peranti safety macam helm fullface atau sepatu nggak ada salahnya diperhatikan. Sama seperti yang Em-Plus rasakan saat menggeber duo skubek ini. Terutama memasuki tikungan. Sempat terpikir juga, gimana kalau jalur melahap tikungan yang diambil salah! Akh....
|
Â
{mosgoogle center}