No posts to display.


Ada perdebatan di kalangan skutiker soal roller. Ukuran lebih berat (dari standarnya), akan menambah panjang nafas mesin di putaran atas. Sebaliknya yang lebih ringan, akselerasi di putaran bawah lebih cepat. Menurut Aldhi dari bengkel D2M di Kalimalang, hal itu sampai saat ini masih jadi polemik.
Nah biar enggak cuma omdo alis omong doang (cape deeh..), seperti kita bilang minggu lalu, lewat rubrik Go-Fak (gosip & fakta) ini akan kita buktikan. Pastinya, dilakukan pengetesan terhadap roller yang lebih berat dari standarnya.
Perangkat tes, memakai skutik Honda Vario edisi 2008. Dua ukuran berat roller (13 gram standar pabrik dan 15 gram) yang berbeda dipakai untuk pembuktian. Metode pengujian pakai 3 variabel alat (takometer, vericom dan dyno test). Bobot Mr. Testo yang mengetes 60 kg.
Â
Takometer
![]() Pakai roller lebih berat, motor mulai bergerak butuh rpm lebih tinggi |
Dengan merek i-Max Intelligent Digital Tachometer buatan BRT, metode pengetesannya untuk melihat di putaran mesin berapa Vario mulai berjalan. Dengan menggunakan roller standar, pada 3.000 rpm motor mulai bergerak dan saat menggunakan roller 15 gram, Vario baru bergerak saat rpm sudah mencapai 3.500.
Vericom
Pakai VC2000 untuk menguji jarak tempuh dari 0-100 meter dan 0-201 meter. Selain itu, juga dilakukan tes pencapaian kecepatan 0-60 km/jam. Nah, pada tes jarak tempuh pertama (0-100 m), dengan pemakaian roller 13 gram waktu tercatat 8,23 detik (13,21 detik pada jarak tempuh 0-201 m).
Saat memasukkan roller 2 gram lebih berat (dari standarnya), angka tercetak 0,41 detik lebih lambat dibanding pakai roller standar (dengan jarak tempuh yang kedua, beda 0,35 detik).
Untuk tes pencapaian kecepatan 0-60 km/jam, pakai roller bawaan pabrik waktu bisa tercatat 6,45 detik. Itu selisih 0,43 detik bila yang dipakai roller 15 gram.
| 13 gram (std) | 15 gram | |
| 0-100 m | 8,23 detik | 8,64 detik |
| 0-201 m | 13,21 detik | 13,56 detik |
| 0-60 km/jam | 6,45 detik | 6,83 detik |
Dyno Test
Alat milik PT BRT, Cibinong. Dengan variabel ini, pengetesan difokuskan pada berapa lama pencapaian torsi dan daya kuda (dk) tertinggi. Tentu dengan memakai roller 15 gram dibanding standarnya yang 13 gram.
Dari hasil tes, secara grafik tampak bahwa untuk mencapai torsi pada titik tertinggi di 6,37 ft-lbs (pakai roller 15 gram), gas mesti dipelintir sampai mencapai 5.500 rpm. Nah kalau pakainya roller standar, angka torsi tertinggi 5,91 didapat saat putaran mesin mencapai 5.400 rpm.
Sementara untuk pencapaian dk paling puncak, analisa grafik menunjukkan bahwa saat putaran mesin mencapai 7.450 rpm, dk tercatat 7.40 Ft-lbs. Itu kalau pakai roller yang 15 gram. Bila yang dijejalkan roller 13 gram, analisa grafik tercatat untuk pencapaian dk tertinggi saat putaran mesin ada di angka 7.320 rpm.
Fakta
Dari ke-3 variabel alat pengetesan, pemakaian roller berat membuahkan akselerasi lebih lambat, ketimbang adopsi roller standar. Sehingga ini berefek pada ‘nafas mesin’ jadi lebih panjang. Dalam artian, polemik soal roller ini bukan gosip. Tapi fakta adanya. Tapi perlu diperhatikan, hal ini juga menimbulkan vibrasi cukup besar. “Terutama saat putaran mesin bergerak dari bawah ke tengah,†ujar Mr. Testo.